NILAI UKG JEBLOK, TUNJANGAN PROFESI GURU TETAP AKAN DIBAYAR

Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabbarakatuh

Selamat Siang

Mendikbudku.com - Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Garut Mahdar Suhendar menegaskan, kendati nilai uji kompetensi guru (UKG) di Kabupaten Garut terbilang rendah dibandingkan rata-rata nilai UKG Jawa Barat, proses kegiatan belajar mengajar (KBM) di sekolah-sekolah di Kabupaten Garut tetap berjalan baik.

Hasil gambar untuk tunjangan profesi
Gambar Ilustrasi

Dia bahkan meyakinkan kalangan guru yang nilai UKG-nya rendah agar tak usah khawatir atau takut. Sebab nilai UKG tak berpengaruh terhadap tunjangan sertifikasi.

“UKG rendah sebenarnya bukan hanya di Garut. Di beberapa daerah pun hampir seperti itu,” kata Mahdar menanggapi rendahnya UKG di Garut, Rabu (25/10/17).

Dia menyebutkan, banyak faktor menyebabkan nilai UKG di Garut rendah. Antara lain kesiapan peserta UKG tidak maksimal terkait banyaknya tugas pada saat ini.

Seperti harus ikut program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) moda daring dan daring kombinas, pendampingan Kurikulum 2013 (K13), dan seabreg pekerjaan administrasi yang harus diselesaikan.

Di lain pihak, lanjut Mahdar, di antara peserta UKG juga terdapat guru honorer yang sampai saat ini tidak jelas statusnya. Bahkan sekadar untuk mendapatkan surat dari Bupati saja sulit.

Padahal Permendikbud Nomor 26 tahun 2017 tentang Perubahan Atas Permendikbud Nomor 8 tahun 2016 tentang Bantuan Operasional Sekolah (BOS) menegaskan bila pemerintah daerah wajib memberi surat tugas kepada guru honorer, dan juga ada kegiatan PKB Mandiri yang harus bayar.

“Jadi (dengan kondisi seperti itu), tidak heran bila hasil UKG tahun ini di Garut rendah,” kata Mahdar.

Ditambahkannya, pihak Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Dasar Kemendikbud menuntut nilai UKG mesti 8.0, dan PGRI menuntut nilai UKG itu 6.5.

“Tapi itu tak jadi masalah. Karena nilai UKG tak berpengaruh pada tunjangan profesi. Tak perlu takut. Walau nilai UKG rendah, KBM tetap dilaksanakan dengan baik,” ujarnya.

Berkaitan UKG, suara bernada keras disampaikan Ketua Serikat Guru Indonesia (SEGI) Kabupaten Garut Imam Tamamu Taufiq. Dia menegaskan pihaknya sejak awal menolak tegas kebijakan UKG.

UKG dinilainya tak berpengaruh terhadap peningkatan kualitas guru. UKG hanya membuat kalangan guru menjadi repot dan sibuk dengan berbagai tugas yang justru mengganggu fokus para guru berkhidmat terhadap murid-muridnya.

“Sejak awal, kita memboikot UKG. Saya sendiri tak pernah ikut UKG,” kata Imam.

Yang membuat prihatin, lanjutnya, UKG terkesan menjadi alat menakut-nakuti guru di Indonesia.

“Kalau tak ikut UKG, hak TPG (tunjangan profesi guru)-nya takkan diberikan. Tak heran kalaupun kemudian diberikan, tapi sangat-sangat telat tak sesuai ketentuan,” kata Imam.

Sebelumnya, Pelaksana Teknis Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Garut Dede Sutisna mengatakan hasil UKG pada 2017 di Kabupaten Garut hanya mencapai 4,8. Angka tersebut masih jauh di bawah rata-rata nilai UKG Jawa Barat yang mencapai 5,6.

Dede yang juga Sekretatis Disdik Garut itu menyebutkan, salah satu penyebab masih rendahnya kompetensi atau nilai UKG di Garut yakni banyak guru masih gagap teknologi, tak menguasai penggunaan komputer/laptop.

Dia menyebutkan, salah satu upaya bisa dilakukan untuk mendongkrak tingkat kompetensi guru di Kabupaten Garut tersebut yakni dengan dilaksanakannya pelatihan-pelatihan.

Sumber : inilahkoran.com

Demikian berita seputar guru yang dapat mendikbudku.com bagikan, semoga bermanfaat.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "NILAI UKG JEBLOK, TUNJANGAN PROFESI GURU TETAP AKAN DIBAYAR"

Posting Komentar