Foto Viral Anak Penjual Tisu yang Membaca 'Membantah' Anggapan Rendahnya Minat Baca Indonesia

Mendikbudku.com - Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabbarakatuh. Selamat pagi rekan-rekan, selamat datang kembali di situs mendikbudku.com yang pada kesempatan kali ini akan membagikan berita terkini seputar pendidikan di tanah air.

Sebuah foto yang menunjukkan seorang anak penjual tisu di Jambi sedang membaca buku dibagikan sampai lebih dari 5.600 kali di media sosial dan membuka percakapan soal minat baca orang Indonesia yang disebut rendah.

Anak membaca buku
Gambar Ilustrasi

Dalam foto milik mahasiswa UIN Yogyakarta, Kemas Muhammad Intizham, itu terlihat si anak tengah berjongkok membuka buku di lapak peminjaman buku gratis yang dibuat oleh Kemal dan dua temannya.

Lapak itu, menurut Kemal, awalnya diniatkan menjadi tempat berjualan buku, namun karena minimnya minat, mereka mengubahnya menjadi lapak peminjaman buku gratis saat acara hari bebas kendaraan bermotor setiap Sabtu dan Minggu di depan kantor Gubernur Jambi.

Tetapi lebih banyak yang meminjam adalah orang-orang di atas usia 50 tahun.


"Kalau ada anak-anak yang lihat-lihat buku, sama orangtuanya malah dilarang. 'Nanti aja kita main di depan,' katanya," ujar Kemas pada BBC Indonesia, menirukan pernyataan para orangtua yang didengarnya.

Kedatangan si anak penjual tisu itu pun menjadi anomali.

"Setelah memegang satu buku dan membaca beberapa halaman, ia mengatakan bahwa ia tertarik dengan buku yang ia pegang. Kami bertukar barang. Ia meminjam satu buku milik kami. Kami membeli tiga bungkus tisu yang ia jual. Ia pamit mau lanjut berjualan," tulis Kemal.

Dua jam kemudian, si anak lewat lagi dengan barang dagangan yang berkurang, dan menurut Kemal, si anak mengatakan, "Bang, bukunya sudah selesai saya baca. Besok boleh pinjam lagi, ya." Berarti, ia berjualan sambil mencuri waktu membaca. Saya yakin ia benar membaca. Sebab, saya beberapa kali bertanya kepadanya tentang isi buku itu. Ia bisa menjawabnya."

Foto itu sebenarnya diambil 20 Agustus lalu, namun baru menjadi viral setelah disebarkan oleh pengguna Twitter @mardiasih. Cuitannya sudah disebarkan sekitar 5.700 kali.


Si anak dalam foto tersebut, menurut Kemal, sempat kembali minggu depannya, tapi kemudian tidak pernah terlihat lagi.

Buku-buku yang dipamerkan di lapak itu berasal dari koleksi pribadi Kemal, termasuk buku biografi, sejarah, dan novel.

Anak membaca

Mereka yang datang bisa bebas meminjam, bahkan untuk peminjaman Kemal dan dua rekannya tidak mensyaratkan KTP.

Apakah semua buku kembali? "Ya ada yang belum dikembalikan," kata Kemal.

Minat baca
Penelitian World's Most Literate Nations (WMLN) atau Negara Paling Literer di Dunia dari Central Connecticut State University yang pertama dirilis pada Maret 2016 lalu sering dikutip untuk menunjukkan bahwa Indonesia berada di urutan 60 dari 61 negara yang disurvey.

Survey ini adalah "lensa untuk melihat perilaku literer dan sumber daya pendukungnya - lima kategori (yang digunakan) termasuk ukuran serta jumlah perpustakaan dan tingkat baca koran," menurut penjelasan penelitian tersebut.

Dalam cuitannya, @mardiasih menulis bahwa "Minat baca buku anak Indonesia tidak rendah, para koruptor yg memutus hak berpendidikan&berbuku mereka."

Sebelumnya, Setia Dharma Madjid, dari IKAPI juga menyatakan hal yang sama.

Dia mengaku pernah melakukan percobaan mengirim ribuan buku ke sebuah desa berpenduduk sekitar 1.000 orang di Kabupaten Solok, Provinsi Sumatera Barat.

Anak membaca buku

Di sana, 4.000 judul buku dititipkan di rumah-rumah secara bergilir. Setelah periode waktu tertentu, buku-buku di sebuah rumah akan diganti dengan buku-buku dari rumah lain.

"Hasilnya, semua judul buku habis dibaca oleh penduduk desa tersebut. Hanya ada satu orang yang tidak membaca karena penglihatannya rabun," kata Setia.

"Ini kan jelas bahwa minat baca tidak rendah," katanya meyakinkan.

Lainnya, Stanley Ferdinandus, pendiri Heka Leka, sebuah LSM yang bergerak di bidang pendidikan anak di provinsi Maluku, mengatakan kondisi transportasi amat menyulitkan distribusi buku ke tangan anak-anak di pulau-pulau yang jauh dari ibu kota provinsi.

Ia dan koleganya menumpang kapal selama berhari-hari untuk membawa buku dari Ambon ke pulau-pulau di perairan Laut Arafura.

Semua jerih payah itu, menurut Stanley, terbayar ketika melihat anak-anak gembira mendapat buku.

"Pertama mungkin mereka heran karena buku adalah benda asing yang jarang mereka jumpai. Namun, mereka akan gembira ketika melihat buku cerita yang penuh gambar dan sarat informasi," kata Stanley.

Sumber : bbc.com

Demikian berita terkini yang dapat mendikbudku.com sampaikan, silakan dishare.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Foto Viral Anak Penjual Tisu yang Membaca 'Membantah' Anggapan Rendahnya Minat Baca Indonesia"

Posting Komentar